Monday, November 14, 2011

KEPALA BUKAN EKOR

oleh: Pdt. Bigman Sirait



KEPALA bukan ekor, adalah kata yang sangat akrab di telinga kita. Tiap kali terucap oleh pengkhotbah, dengan semangat tinggi umat akan mengaminkannya. Apalagi jika sang pengkhotbah berapi-api, dapat dibayangkan respon pendengar. Hal ini dapat dipahami, karena setiap orang pasti tak rela menjadi ekor. Menjadi kepala berarti kaya, si miskinlah ekornya. Orang yang sehat itu ekspresi yang kepala, sementara miskin Anda tahu jawabannya. Semua diukur secara kuantitatif, deret angka. Para pembicara selalu memberi tekanan yang jelas soal kepala dalam ukuran angka, keberhasilan kuantitatif. Kamu kepala karena kamu “orang percaya”, “umat Allah”, itu otomatis. Jika kamu tidak kaya, atau kamu sakit, kamu adalah ekor, kurang beriman, itu rumusannya. Terasa sangat kejam, karena memang sangat diskriminatif, padahal Tuhan tak begitu.

Ini adalah wajah aneh Kekristenan yang dimunculkan oleh orang berpikiran pendek, sangat bergairah dengan angka, dan mengabaikan semangat sejati Alkitab. Dengan jelas, Alkitab membicarakan kualitas yang menjadi tuntutan. Lihatlah apa kata Yesus tentang pujian Israel: “Percuma bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku”. Israel mengedepankan kuantitas, sementara Tuhan menuntut kualitas. Ungkapan ini diucapkan Yesaya sebagai nabi. Yesaya menyampaikan kebencian Allah akan kemunafikan yang mewarnai puasa, perpuluhan, dan ibadah Israel.

Tampaknya hal itu kembali terulang di kekinian gereja. Tapi celakanya justru inilah yang diminati umat. Orang rela mengantri untuk motivasi seperti ini. Kurang suka pada kualitas, karena kualitas selalu menuntut keberanian dan pengorbanan yang besar. Tak ada yang mau membayar harga dalam mengikut Yesus, semuanya mau mengambil untung dari percayanya. Padahal keuntungan percaya terle-tak pada keselamatan yang diterima cuma-cuma, bukan soal status sosial atau keadaan lahiriah. Itulah sebab, mengapa para rasul justru merasa beruntung boleh menderita untuk Yesus, bukan sebaliknya, merasa beruntung karena bisnis yang berlipat-lipat. Apakah tidak boleh kaya? Tentu saja bukan itu maksudnya, tetapi amat sangat jelas, kaya bukanlah tujuan orang percaya, melainkan sekadar alat untuk memuliakan Tuhan. Kekayaan bukan kemuliaan diri, kemuliaan adalah pengabdian pada Sang Kebenaran. Kembali pada “kepala bukan ekor”.

Menjadi kepala bukan ekor (Ul. 28:13) yang dimaksud Alkitab adalah, menjadi pemimpin, pemberi arah. Menjadi kepala itu sangat jelas. Ke mana kepala pergi ke situ ekor mengikuti. Jadi yang dimaksud menjadi kepala bukan soal kaya, atau kuantitas, tetapi sekali lagi soal kualitas. Israel tak boleh seperti bangsa lain yang kafir, tak mengenal Allah. Israel harus bisa menunjukkan keunikannya dalam monoteisnya. Israel yang ber-Allah satu. Itu unik di tengah bangsa lain yang ber-Allah banyak. Itu sebab Israel dituntut setia terhadap firman Tuhan dan mengajarkannya berulang kali kepada setiap anak-anak Israel. Dalam kesetiaan itu mereka diatur oleh hukum Allah yang berdaulat. Maka jika mereka taat, mereka akan menjadi bangsa yang besar dan berpengaruh, berkuasa dan mempengaruhi bangsa yang lainnya. Itulah menjadi kepala.

Sementara soal harta, kesehatan, dan yang lainnya adalah bonus belaka, bukan tujuan utama. Tujuan utama kepala adalah memberi arah, memimpin di jalan yang benar. Indah bukan? Menjadi ekor sudah jelas pengekor, mengikuti arus zaman. Dunia sangat cinta uang, materialistis. Apa saja dihalalkan dalam mengumpulkan uang. Uang membuat seseorang merasa terhormat, dan dengan uang bisa membeli apa saja. Bahkan bisa belanja keadilan, dan kehormatan semu. Uang menjadi tujuan kebanyakan para imam di era Perjanjian Lama, dan semakin menggila di era Perjanjian Baru. Para imam mencari keuntungan lewat ibadah di bait Allah. Yesus pernah membongkar praktek mereka, dan menyucikan bait suci yang ternyata tak suci. Dan yang paling mengerikan, Yudas pun rela menjual Yesus dengan 30 keping perak. Uang telah membuat Yudas gelap mata, membuang kehormatan kemuridannya. Semua soal uang, soal kaya.

Inikah menjadi kepala? Jelas amat sangat itu salah. Itu bukan kepala, tetapi sebaliknya itu ekor tanpa daya. Tertarik dengan nilai dunia, dan menjadi pengikutnya. Ironis bukan, merasa menjadi kepala, padahal murni ekor. Mengikut dunia, tetapi merasa memimpinnya. Itu sebab tidak heran jika dunia mencemooh gereja yang semakin hari semakin berkurang saja orang setia yang beriman teguh. Mirip kisah Gideon yang mempersiapkan tentara untuk pertempuran sebanyak 30 ribu orang (Hak. 7). Tetapi ternyata tinggal sedikit ketika seleksi ilahi terjadi. Gideon pergi bertempur hanya dengan 300 tentara, dan berhasil. Gereja bagaikan 30 ribu orang yang banyak, ramai, penuh. Padahal yang sejati hanya 300 orang, kecil, sedikit, tampak tak berarti, tapi itulah pemenangnya. Kualitas bukan kuantitas. Jadi sangat jelas bukan artinya menjadi kepala. Ingat, para nabi bukan orang kaya, bahkan sebaliknya, ada yang peternak kaya dipanggil jadi nabi dan meninggalkan semuanya. Ada Elisa yang menolak uang Naaman, sementara pelayan masa kini mirip Gehazi pembantu Elisa, bukan saja menyambar uang yang ditolak Elisa, jika perlu mereka menipu dengan dalih proyek pelayanan. Dan jika kaya, mereka menyebut diri kepala. Sungguh sebuah penipuan yang licin.

Penipuan dengan pembenaran yang diindoktrinasikan, yang membuat umat terbius, dan kalaupun tahu, takut mengoreksinya. Ingat, kaya bukan dosa, bukan kaya yang jadi masalah, tetapi konsepnya dan caranya. Jika Tuhan mau memberi, apalah susahnya. Dunia ini, dan segenap isinya milik Tuhan. Tapi, berkata mewah itu dari Tuhan, dan menjadikannya gaya hidup, itulah persoalan. Umat Kristen menjadi sangat self-oriented, gila kaya, kehilangan kepekaan pada sesama. Kesaksian selalu berputar soal kuantitas, bukan lagi kualitas hidup. Seharusnya menjadi kepala, adalah menjadi orang yang berintegritas, orang yang dapat diteladani menjadi model, menjadi kepala. Alangkah indahnya dunia jika orang Kristen menjadi terang seperti tuntutan Yesus kepada setiap orang percaya.

Orang Kristen menjadi kepala, sehingga jelaslah arah kehidupan. Ini menjadi tuntutan pada setiap pemimpin. Dalam kepemimpinan umum, seharusnya seorang pemimpin memiliki jiwa kepahlawanan, menjadi pelindung kaumnya, dan sangat menjaga orang di sekitarnya. Dia bukan tipe orang yang mengamankan diri, dan pengkhianat terhadap pengabdian orangnya sendiri. Dia bukan pemim-pin yang hanya lancar bicara, tapi gagap mewujudkannya. Bukan oportunis, cinta kaya, ingin jadi idola, tetapi mengorbankan kawan-kawannya. Begitu pula dalam dunia keagamaan, sungguh tak bisa dibayangkan pemimpin agama yang oportunis bukan? Menyedot kekayaan umat, dengan meminta umat suka memberi, padahal dia sendiri sebagai pemimpin agama tak suka berbagi. Hanya menumpuk untuk diri, dan terus berjalan dalam manipulasi.
Menjadi kepala bukan ekor dalam arti yang sesungguhnya sangat dibutuhkan di tengah dunia yang oportunis ini. Menjadi kepala bukan ekor sudah seharusnya menjadi semangat yang tak pernah padam, itulah panggilan orang percaya. Cobalah mulai dengan sikap yang kritis dengan mencermati kepemimpinan agama di sekitar Anda, mulailah mengenali mana yang sejati dan mana yang hanya sekadar untuk materi. Ingat, jual beli “Firman” sudah sangat terkenal di era Bileam si nabi mata duitan. Karena itu jangan terjerumus lagi di lubang yang sama, di kekinian masa. Lalu mulai pula dengan berani mempertanyakan hal yang kelihatan salah. Tak perlu takut risikonya, karena Tuhan Yesus sudah mengatakannya: bahwa yang layak menjadi murid-Nya hanyalah mereka yang berani menanggung risiko.

Tentukan sikap, apakah Anda kepala (murid Kristus), atau hanya ekor (pengikut pemimpin agama). Lalu belajarlah menyuarakan kebenaran, belajar menjadi kepala yang tegak, Kristen yang punya sikap, yang konsisten. Ingat ekor akan mengikut Anda. Jika arah sudah benar, berbahagialah, karena Anda telah menolong banyak orang tahu jalan kebenaran, dan saat yang sama tahu pula apa itu kepalsuaan. Selamat menjadi kepala dan bukan ekor, yang sesungguhnya, bukan yang ecek-ecek. Semoga.

No comments:

Post a Comment